PRAMBANAN

Sejarah

Candi Prambanan merupakan candi Hindu yang terbesar di Indonesia. Sampai saat ini belum dapat dipastikan kapan candi ini dibangun dan atas perintah siapa, namun kuat dugaan bahwa Candi Prambanan dibangun sekitar pertengahan abad ke-9 oleh raja dari Wangsa Sanjaya, yaitu Raja Balitung Maha Sambu. Dugaan tersebut didasarkan pada isi Prasasti Syiwagrha yang ditemukan di sekitar Prambanan dan saat ini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta. Prasasti berangka tahun 778 Saka (856 M) ini ditulis pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.

Denah asli Candi Prambanan berbentuk persegi panjang, terdiri atas halaman luar dan tiga pelataran, yaitu Jaba (pelataran luar), Tengahan (pelataran tengah) dan Njeron (pelataran dalam). Halaman luar merupakan areal terbuka yang mengelilingi pelataran luar. Pelataran luar berbentuk bujur dengan luas 390 m2. Pelataran ini dahulu dikelilingi oleh pagar batu yang kini sudah tinggal reruntuhan. Pelataran luar saat ini hanya merupakan pelataran kosong. Belum diketahui apakah semula terdapat bangunan atau hiasan lain di pelataran ini.

Di tengah pelataran luar, terdapat pelataran kedua, yaitu pelataran tengah yang berbentuk persegi panjang seluas 222 m2. Pelataran tengah dahulu juga dikelilingi pagar batu yang saat ini juga sudah runtuh. Pelataran ini terdiri atas empat teras berundak, makin ke dalam makin tinggi. Di teras pertama, yaitu teras yang terbawah, terdapat 68 candi kecil yang berderet berkeliling, terbagi dalam empat baris oleh jalan penghubung antarpintu pelataran. Di teras kedua terdapat 60 candi, di teras ketiga terdapat 52 candi, dan di teras keempat, atau teras teratas, terdapat 44 candi. Seluruh candi di pelataran tengah ini mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, yaitu luas denah dasar 6 m2 dan tinggi 14 m. Hampir semua candi di pelataran tengah tersebut saat ini dalam keadaan hancur. Yang tersisa hanya reruntuhannya saja.

Pelataran dalam, merupakan pelataran yang paling tinggi letaknya dan yang dianggap sebagai tempat yang paling suci. Pelataran ini berdenah persegi empat seluas 110 m2, dengan tinggi sekitar 1,5 m dari permukaan teras teratas pelataran tengah. Pelataran ini dikelilingi oleh turap dan pagar batu. Di keempat sisinya terdapat gerbang berbentuk gapura paduraksa. Saat ini hanya gapura di sisi selatan yang masih utuh. Di depan masing-masing gerbang pelataran teratas terdapat sepasang candi kecil, berdenah dasar bujur sangkar seluas 1, 5 m2 dengan tinggi 4 m.

Di pelataran dalam terdapat 2 barisan candi yang membujur arah utara selatan. Di barisan barat terdapat 3 buah candi yang menghadap ke timur. Candi yang letaknya paling utara adalah Candi Wisnu, di tengah adalah Candi Syiwa, dan di selatan adalah Candi Brahma. Di barisan timur juga terdapat 3 buah candi yang menghadap ke barat. Ketiga candi ini disebut candi wahana (wahana = kendaraan), karena masing-masing candi diberi nama sesuai dengan binatang yang merupakan tunggangan dewa yang candinya terletak di hadapannya.

Candi yang berhadapan dengan Candi Wisnu adalah Candi Garuda, yang berhadapan dengan Candi Syiwa adalah Candi Nandi (lembu), dan yang berhadapan dengan Candi Brahma adalah Candi Angsa. Dengan demikian, keenam candi ini saling berhadapan membentuk lorong. Candi Wisnu, Brahma, Angsa, Garuda dan Nandi mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, yaitu berdenah dasar bujur sangkar seluas 15 m2 dengan tinggi 25 m. Di ujung utara dan selatan lorong masing-masing terdapat sebuah candi kecil yang saling berhadapan, yang disebut Candi Apit.

Kisah Ramayana

Pembuka

Prabu Janaka, Raja kerajaan Mantili memiliki putri bernama Dewi Shinta. Sebuah sayembara diadakan raja untuk mencari calon suami untuk Dewi Shinta. Pangeran dari kerajaan Ayodya Raden Rama Wijaya, memenangkan sayembara tersebut. Sementara itu Prabu Rahwana, pemimpin kerajaan Alengka juga ingin menikahi Dewi Shinta. Rahwana percaya bahwa Shinta adalah reinkarnasi dari Widowati, seseorang yang telah lama ia inginkan.

Hutan Dandaka.

Rama dan Shinta ditemani Lakshmana sedang berjalan di hutan Dandaka. Di sana Rahwana diam-diam mengamati Shinta dan ingin mendapatkannya. Rahwana memerintah salah satu pengikutnya untuk menjadi Kijang Kencana untuk menarik perhatian Shinta. Shinta yang tertarik kepada Kijang Kencana kemudian meminta Rama untuk menangkap kijang tersebut. Rama kemudian meninggalkan Lakshmana dan Shinta untuk memburu Kijang Kencana. Lama tak kembali, Shinta khawatir dan mengutus Lakshmana untuk menyusul Rama. Lakshmana kemudian menggambar lingkaran ajaib disekitar Shinta untuk melindunginya. Rahwana kemudian mencoba menculik Shinta setelah ia ditinggal sendirian, namun gagal karena lingkaran ajaib tersebut. Rahwana kemudian berubah menjadi seorang pengemis tua, Shinta yang merasa kasihan keluar dari lingkaran untuk menolong pengemis tersebut. Setelah Shinta keluar dari lingkaran, Rahwana kemudian menculik Shinta dan membawanya ke Alengka.

Menangkap Kijang Kencana.

Rama memanah kijang dengan panah ajaibnya, namun si kijang berubah menjadi seorang Raksasa (Marica). Pertarungan terjadi antara Rama dan Marica, Rama mengalahkan Marica dengan tembakan panah. Setelah itu Lakshmana kemudian meminta Rama untuk kembali ke tempat Shinta.

Penculikan Shinta

Dalam perjalanannya ke Alengka, Rahwana bertemu seekor burung bernama Jatayu. Jatayu mengenali Shinta sebagai putri Prabu Janaka kemudian berusaha membebaskannya, namun ia dikalahkan oleh Rahwana. Sementara itu Rama yang baru sadar bahwa Shinta telah hilang bertemu dengan Jatayu yang terluka. Rama yang marah mengira Jatayu yang menculik Shinta dan berusaha membunuhnya, namun dicegah oleh Lakshmana. Jatayu kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan mati. Beberapa saat kemudian, seekor kera putih bernama Hanuman datang. Hanuman diutus oleh pamannya Sugriwa untuk mencari bantuan agar dapat membunuh Subali. Subali adalah orang yang menculik Dewi Tara, wanita kesayangan Sugriwa. Rama kemudian memutuskan untuk membantu Hanuman melawan Subali.

Gua Kiskendo 

Sugriwa sampai di Gua Kiskendo dengan bantuan Rama. Sugriwa kemudian mengalahkan Subali dan menyelamatkan Dewi Tara. Sebagai ucapan terima kasih, Sugriwa membantu Rama untuk mencari Sinta dengan mengirimkan Hanuman sebagai utusan menuju kerajaan Alengka.

Taman Argasoka

Keponakan Rahwana, Trijata bertugas menemani dan menenangkan Shinta di taman. Rahwana meminta Shinta untuk menjadi istrinya, namun Shinta selalu menolak. Rahwana marah sampain ingin membunuh Shinta, namun ia selalu dicegah oleh Trijata. Shinta kemudian mendengar nyanyian yang berasal dari Hanuman. Hanuman memberi tahu Shinta bahwa ia diutus oleh Rama untuk menolongnya. Hanuman kemudian merusak taman Alengka. Indrajid, anak dari Rahawana menangkap Hanuman. Kumbakarna yang berusaha menolong Hanuman malah diusir keluar kerajaan. Hanuman yang divonis untuk dibakar hidup-hidup kemudian membakar istana Alengka bersama tubuhnya yang terbakar.

Jembatan Rama

Setelah mengutus Hanuman, Rama beserta pasukan kera membangun jembatan menuju Alengka. Setelah jembatan itu jadi Hanuman kembali dan memberikan kabar tentang kekuatan pasukan Alengka. Rama kemudian memberikan perintah kepada Hanuman, Hanggada, Hanila, dan Jambawan untuk menyerang Alengka.

Perang Besar

Perang Besar terjadi antara pasukan raksasa Alengka dengan pasukan kera Rama. Dalam pertarungan ini, Indrajid terbunuh oleh Lakshmana, Kumbakarna, adik Rahwana juga terbunuh. Rahwana kemudian terbunuh oleh panah Rama dan Gunung Sumawana yang dilempar oleh Hanuman.

Pertemuan Rama dan Shinta

Setelah kekalahan Rahwana, Shinta akhirnya bertemu kembali dengan Rama. Namun Rama menolak kembalinya Shinta karena khawatir ia sudah tidak suci lagi. Untuk membuktikan kesuciannya, Shinta membakar dirinya sendiri. Dengan bantuan dari dewa api, Shinta selamat dari luka bakar. Pembuktian Shinta membuat Rama bahagia dan menerima Shinta kembali.

 https://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-yogyakarta-candi_prambanan_8

Biaya STIBA-IEC Jakarta

BIAYA PENDIDIKAN

January 22, 2018 admin stibaiec 2

BIAYA PENDIDIKAN TAHUN AKADEMIK 2019/2020

(Kuliah Bahasa dan Sastra Inggris Murah Berkualitas)

PROGRAM SASTRA INGGRIS STRATA 1 (S1)

Biaya Pendaftaran
Rp. 200.000
Dana Kemahasiswaan
Rp .400.000 / tahun
Jaket Almamater
Rp .150.000

KELAS REGULER

SEMESTER 1GEL 1GEL 2GEL 3
Dana Pengembangan3,400,0003,900,0004,400,000
Uang Kuliah2,700,000
2,700,000
2,700,000
Biaya UTS200,000
200,000
200,000
Biaya UAS200,000
200,000
200,000
Pembayaran Tunai6,500,000
7,000,000
7,500,000
Pembayaran Angsur6,800,000
7,300,000
7,800,000
Rincian Pembayaran Angsur :
Dana Pengembangan 50%
1,700,000
1,950,000
2,200,000
Uang kuliah per bulan

500,000
500,000
500,000
Biaya UTS
200,000
200,000
200,000
Biaya UAS

200,000
200,000
200,000
JUMLAH
2,600,000
2,850,000
3,100,000
Pembayaran Semester 2 S/D 8 @Rp.3,500,000 (Tunai)
Pembayaran Semester 2 S/D 8 @Rp.3,800,000 (Angsur)
Biaya daftar ulang
400,000
Uang kuliah per bulan
500,000
Biaya UTS
200,000
Biaya UAS
200,000
JUMLAH
1,300,000

KELAS NON REGULER (Kamis-Jum’at-Sabtu)

Biaya Semester 1
GEL 1GEL 2GEL 3Dana Pengembangan
3,800,000
4,300,000
4,800,000
Uang Kuliah
3,300,000
3,300,000
3,300,000
Biaya UTS
200,000
200,000
200,000
Biaya UAS
200,000
200,000
200,000
Pembayaran Tunai
7,500,000
8,000,000
8,500,000
Pembayaran Angsur
7,800,000
8,300,000
8,800,000
Rincian Pembayaran Angsur :
Dana Pengembangan 50%
1,900,000
2,150,000
2,400,000
Uang kuliah per bulan
600,000
600,000
600,000
Biaya UTS
200,000
200,000
200,000
Biaya UAS
200,000
200,000
200,000
JUMLAH
2,900,000
3,150,000
3,400,000

Pembayaran Semester 2 S/D 8 @Rp.4,300,000 (Tunai)
Pembayaran Semester 2 S/D 8 @Rp.4,600,000 (Angsur)
Biaya daftar ulang
600,000
Uang kuliah per bulan
600,000
Biaya UTS
200,000
Biaya UAS
200,000
JUMLAH
1,600,000

Catatan: Jika membayar lunas diawal Semester calon mahasiswa akan diberikan potongan sebesar Rp. 500.000-,

Tes Masuk

Gelombang 1 (November 2018 – April 2019) Tes masuk tgl. 27 April 2019
Gelombang 2 (Mei 2019 – Juni 2019) Tes masuk tgl. 22 Juni 2019
Gelombang 3 (Juli 2019 – Agustus 2019) Tes masuk tgl. 24 Agustus 2019

Program Transfer D3 ke S1

                                 Kelas Regular (Senin s.d Jum’at)
Gel 1Gel 2Gel 3
Biaya Semester 1
Dana Pengembangan2,900,0003,400,0003,900,000
Uang Kuliah2,700,0002,700,0002,700,000
Biaya UTS200,000200,000200,000
Biaya UAS200,000200,000200,000
Pembayaran Tunai6,000,0006,500,0007,000,000
Pembayaran Angsur6,300,0006,800,0007,300,000
Rincian Pembayaran Angsur :
Dana Pengembangan 50%1,450,0001,700,0001,950,000
Uang kuliah per bulan500,000500,000500,000
Biaya UTS200,000200,000200,000
Biaya UAS200,000200,000200,000
JUMLAH2,350,0002,600,0002,850,000
Pembayaran Term 2 dan 3 @Rp.3,500,000 (Tunai)
Pembayaran Term 2 dan 3 @Rp.3,800,000 (Angsur)
Biaya daftar ulang400,000
Uang kuliah per bulan500,000
Biaya UTS200,000
Biaya UAS200,000
JUMLAH1,300,000

Info lebih Lanjut Silahkan Segera hubungi:

Telp.021-8518685

SMS/WA: 0856-9540-0674 [MS. TEENY]

 WhatsApp INFO PENDAFTARAN

http://stibaiec-jakarta.ac.id/2018/01/22/biaya-pendidikan-2/

STIBA-IEC Jakarta Timur

VISI, MISI & TUJUAN

October 4, 2018 admin Article 0

VISI, MISI DAN TUJUAN

STIBA-IEC JAKARTA

VISI

“Menjadi sekolah tinggi yang berkualitas dan unggul di bidang bahasa dan sastra asing pada tahun 2030 di wilayah DKI Jakarta yang berstandar nasional dan mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa melalui proses pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.”

MISI

  1. Menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pengajaran bahasa dan sastra asing (Bahasa dan Sastra Inggris) yang berkualitas.
  2. Melaksanakan kegiatan penelitian untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara berkelanjutan.
  3. Menerapkan temuan-temuan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat.
  4. Melakukan sosialisasi tentang eksistensi dan program-program sekolah tinggi kepada masyarakat secara terencana dan terus menerus melalui kegiatan dan relasi publik.
  5. Memberikan pelayanan kepada masyarakat di bidang bahasa dan sastra asing (Bahasa dan Sastra Inggris) dan pengajarannya

TUJUAN

  1. Menghasilkan lulusan tingkat sarjana bahasa dan sastra asing (Bahasa dan Sastra Inggris) yang bermoral dan berkompeten dalam bidangnya dan memiliki daya analisis, berfikir sistematis dan logis, berwawasan luas, berdedikasi terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki integritas kepribadian, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  2. Mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang bahasa dan sastra asing (Bahasa dan Sastra Inggris) melalui kegiatan penelitian.
  3. Mengimplementasikan keahlian dan pengetahuan di bidang bahasa dan sastra asing (Bahasa dan Sastra Inggris) kepada masyarakat.
  4. Menjalin kemitraan dalam upaya pemberdayaan dan peningkatan sumber daya manusia.
  5. Menyiapkan lulusan yang dapat menerapkan keahliannya dalam bidang bahasa dan sastra asing (Bahasa dan Sastra Inggris) serta dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

http://stibaiec-jakarta/2018/10/04/visi-misi-tujuan/

DIRGANTARA



Sejarah Museum Dirgantara di Yogyakarta dan Koleksinya

Sponsors Links

Banyak sekali objek wisata di Yogya yang membuat para wisatawan tertarik untuk berkunjung kesana. Tidak hanya terkenal dengan produksi batik dan bakpia, Yogyakarta juga memiliki banyak tempat wisata alam seperti candi di Yogyakartasejarah situs Ratu Boko, bahkan sejarah gudegdan juga wisata ilmu pengetahuan dan sejarah seperti sejarah candi kalasan yang akan berguna bagi para pelajar. Museum Dirgantara di Yogya merupakan bagian dari salah satu tujuan wisata tersebut yang banyak mendapatkan pengunjung terutama pada musim liburan, yang bertujuan untuk memperkenalkan perangkat – perangkat yang dimiliki TNI AU serta sejarahnya.

Tempat ini merupakan museum yang memiliki daya tarik tinggi bagi para wisatawan karena apa yang akan dilihat didalamnya sangat menarik dan sama sekali tidak membosankan seperti dugaan orang awam mengenai sebuah museum. Museum ini sangat cocok untuk dikunjungi oleh Anda yang menyukai dunia penerbangan atau aviasi karena museum ini menampilkan berbagai koleksi lengkap dari dunia penerbangan militer dan dirgantara. Pengunjung akan dapat melihat berbagai pesawat hebat yang digunakan pada masanya dulu, termasuk pesawat tempur dan pesawat angkut yang pernah digunakan dan dimiliki TNI AU.

Sejarah Museum Dirgantara di Yogyakarta

Sejarah Museum Dirgantara di Yogyakarta

Museum yang sebelumnya berlokasi di Jakarta ini dipindahkan ke kompleks TNI AU Yogya karena Yogya adalah lokasi dimana terjadi peristiwa kelahiran TNI Angkatan Udara. Sejarah museum dirgantara di Yogyakarta dimulai pada 4 April 1969 di jalan Tanah Abang, Bukit, Jakarta ketika didirikan oleh Panglima AU Laksamana Udara Rusmin Nuryadin. Pada November 1977 museum kemudian dipindahkan dan digabung dengan Museum Kesatrian Akademi Angkatan Udara di pangkalan Adi Sucipto Yogya. Museum kemudian diresmikan sebagai Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala pada 29 Juli 1978.

Karena pertimbangan bahwa Alutsista Udara TNI AU akan terus berkembang dan gedung museum lama di Kesatrian AKABRI tidak akan dapat menampung dan sukar dijangkau oleh pengunjung, maka letak museum kemudian dipindahkan. Pada tanggal 17 Desember 1982, Kepala Staf AU Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi menandatangani prasasti yang diperkuat dengan Surat Perintah Kepala Staf TNI AU tanggal 11 April 1984 mengenai rehabilitasi gedung bekas pabrik gula dan gudang logistik zaman Jepang untuk disiapkan sebagai gedung museum permanen. Memasuki tahun 1984 museum kemudian dipindahkan kembali ke Wonocatur ke sebuah gedung yang dibangun pada masa penjajahan Belanda. Pada 29 Juli 1984 museum kemudian diresmikan oleh Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Sukardi dengan luas kurang lebih 4,2 hektar dan luas bangunan yang digunakan seluruhnya sebesar 8,765 meter persegi.

Koleksi Museum Dirgantara

koleksi Museum Dirgantara

Sebagai bagian dari Sejarah Museum Dirgantara di Yogyakarta, koleksi museum ini berjumlah 10 ribu buah berupa 36 pesawat terbang, 1000 foto, 28 macam diorama, lukisan, tanda – tanda kehormatan, pakaian dinas, dan perpustakaan yang menampung sejumlah koleksi buku. Koleksi pesawat tempur dan replikanya yang berada di museum ini kebanyakan berasal dari masa Perang Dunia II dan masa – masa perang kemerdekaan Indonesia, antara lain:

  • Pesawat Ki-43 yang dibuat oleh Jepang
  • Pesawat PBY-5A Catalina
  • Replika pesawat pertama yang diproduksi Indonesia, WEL-I-RI-X
  • Pesawat buatan Jepang yaitu A6M5 Zero Sen
  • Pesawat pembom jenis B-25 Mitchell, B-26 Invader, TU-16 Badger
  • Helikopter buatan Amerika Hillier 360
  • Pesawat P51 Mustang dari AS
  • Pesawat KY51 Cureng dari Jepang
  • Replika pesawat Glider Kampret yang dibuat Indonesia
  • Pesawat Lavochkin La-11, Mig-15, Mig -17 dan Mig 21 Rusia.
  • Rudal SA 75
  • Pesawat TS -8 Dies yang dibuat AS.

Baru – baru ini pada sejarah museum dirgantara di Yogyakarta mendapat tambahan koleksi berupa 9 buah prototipe bom yang dibuat oleh Dislitbang AU bekerjasama dengan PT. Pindad dan PT. Sari Bahari, yaitu bom latih dan bom tajam berdaya ledak tinggi yang bisa digunakan sebagai senjata pada pesawat Sukhoi Su-30, F 16, F5, Sky Hawk, Super Tucano dan lainnya. Ada pula koleksi berupa foto – foto pejuang TNI AU misalnya Agustinus Adisucipto, Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, Adi Sumarmo, Abdul Halim Perdanakusuma, dan lainnya yang merupakan pelopor pendirian TNI AU Indonesia.

  • Tata Ruang Museum Dirgantara

Gedung museum ini terbagi menjadi beberapa bagian ruangan yang mengakomodir pameran berbagai koleksi yang ada disini. Selain ruang utama yang berisi pajangan foto – foto para mantan petinggi AU, ada beberapa ruangan lain yaitu:

  • Ruang Kronologi I dan II

Di dalam ruangan ini pengunjung dapat melihat – lihat susunan diorama sejarah dan dokumen yang berasal dari masa – masa proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945. Sejarah keterlibatan TNI AU dalam usahanya membela Merah Putih sejak Agresi Militer Belanda II yang menyerang Lanud Adisucipto yang dulu masih bernama Maguwo. Dalam sebuah diorama diungkapkan bagaimana perjuangan para Pasukan Pertahanan Pangkalan Udara Maguwo, dan juga terdapat pesawat C-47 VTCLA yang dinaiki para perwira TNI AU yang fotonya ada di ruang utama dan jatuh karena ditembak Belanda sehingga para perwira tersebut gugur. Masih ada beberapa diorama lain seperti diorama ketika terjadinya penerbangan pertama pesawat merah putih, peristiwa 29 Juli 1947, peristiwa setelah terjadinya penerbangan pertama, diorama Trikora, dan mengenai SKSD Palapa.

  • Ruang ALUTSISTA

Di ruangan ini para pengunjung bisa melihat berbagai peralatan temput TNI AU yang digunakan ketika bertempur melawan para penjajah pada zaman dulu. Selain berbagai jenis pesawat yang telah disebutkan diatas, ada berbagai alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AU berupa rudal anti pesawat, senjata penangkis serangan udara (PSU) dan beberapa jenis senapan yang digunakan pasukan Indonesia untuk melawan Belanda. Ada beberapa pesawat yang dapat dinaiki oleh pengunjung secara statis.

Selain itu ada juga studio foto yang memungkinkan anak – anak berfoto ala pilot pesawat tempur dan tempat penjualan suvenir di museum dirgantara yang terletak di dekat pintu keluar museum. Toko ini menjual berbagai aksesoris kedirgantaraan Indonesia mulai dari topi yang bergambar pesawat tempur, kaus, emblem atau pin, miniatur pesawat tempur dan lain sebagainya. Beberapa koleksi pesawat juga ada dipajang di halaman museum, dan satu alutsista bekas buatan Uni Soviet di salah satu sudut museum berupa pesawat TU 16 yang dijuluki Badger oleh Amerika. Pesawat inilah yang turut berjasa memaksa Belanda angkat kaki dari Papua sehingga peristiwa Trikora bisa berakhir dan Papua kembali ke pangkuan RI.

Sejarah museum dirgantara di Yogyakarta tentunya membuat Anda penyuka sejarah akan tertarik pada berbagai koleksi yang ada disini. Harga tiket berkisar empat ribu rupiah per orang dan dibuka mulai pukul 08.00-15.00 setiap harinya. Lokasi museum ini tepatnya adalah bandar udara Adi Sucipto di Jalan Kolonel Sugiono, Kompleks Lapangan Udara Adi Sucipto, Wonocatur, DIY. Lokasinya berada di tengah perkotaan yang mudah dijangkau oleh kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Akses kendaraan umum berupa bus umum dan pengunjung bisa turun di SD Angkasa yang letaknya setelah Flyover Janti, lokasi museum sekitar 200 meter dari lokasi turun bus. Pengunjung juga dapat naik trans Jogja dan turun di shelter Janti yang terdekat.  Selain itu, ada juga sejarah museum batik yogyakartasejarah museum biologi, dan sejarah museum affandi di Yogya.Advertisement

http://sejarahlengkap.com/bangunan/sejarah-umum-museum-dirgantara-di-yogyakarta



DIRGANTARA

Sejarah Museum Dirgantara di Yogyakarta dan Koleksinya

Sponsors Links

Banyak sekali objek wisata di Yogya yang membuat para wisatawan tertarik untuk berkunjung kesana. Tidak hanya terkenal dengan produksi batik dan bakpia, Yogyakarta juga memiliki banyak tempat wisata alam seperti candi di Yogyakartasejarah situs Ratu Boko, bahkan sejarah gudegdan juga wisata ilmu pengetahuan dan sejarah seperti sejarah candi kalasan yang akan berguna bagi para pelajar. Museum Dirgantara di Yogya merupakan bagian dari salah satu tujuan wisata tersebut yang banyak mendapatkan pengunjung terutama pada musim liburan, yang bertujuan untuk memperkenalkan perangkat – perangkat yang dimiliki TNI AU serta sejarahnya.

Tempat ini merupakan museum yang memiliki daya tarik tinggi bagi para wisatawan karena apa yang akan dilihat didalamnya sangat menarik dan sama sekali tidak membosankan seperti dugaan orang awam mengenai sebuah museum. Museum ini sangat cocok untuk dikunjungi oleh Anda yang menyukai dunia penerbangan atau aviasi karena museum ini menampilkan berbagai koleksi lengkap dari dunia penerbangan militer dan dirgantara. Pengunjung akan dapat melihat berbagai pesawat hebat yang digunakan pada masanya dulu, termasuk pesawat tempur dan pesawat angkut yang pernah digunakan dan dimiliki TNI AU.

Sejarah Museum Dirgantara di Yogyakarta

Sejarah Museum Dirgantara di Yogyakarta

Museum yang sebelumnya berlokasi di Jakarta ini dipindahkan ke kompleks TNI AU Yogya karena Yogya adalah lokasi dimana terjadi peristiwa kelahiran TNI Angkatan Udara. Sejarah museum dirgantara di Yogyakarta dimulai pada 4 April 1969 di jalan Tanah Abang, Bukit, Jakarta ketika didirikan oleh Panglima AU Laksamana Udara Rusmin Nuryadin. Pada November 1977 museum kemudian dipindahkan dan digabung dengan Museum Kesatrian Akademi Angkatan Udara di pangkalan Adi Sucipto Yogya. Museum kemudian diresmikan sebagai Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala pada 29 Juli 1978.

Karena pertimbangan bahwa Alutsista Udara TNI AU akan terus berkembang dan gedung museum lama di Kesatrian AKABRI tidak akan dapat menampung dan sukar dijangkau oleh pengunjung, maka letak museum kemudian dipindahkan. Pada tanggal 17 Desember 1982, Kepala Staf AU Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi menandatangani prasasti yang diperkuat dengan Surat Perintah Kepala Staf TNI AU tanggal 11 April 1984 mengenai rehabilitasi gedung bekas pabrik gula dan gudang logistik zaman Jepang untuk disiapkan sebagai gedung museum permanen. Memasuki tahun 1984 museum kemudian dipindahkan kembali ke Wonocatur ke sebuah gedung yang dibangun pada masa penjajahan Belanda. Pada 29 Juli 1984 museum kemudian diresmikan oleh Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Sukardi dengan luas kurang lebih 4,2 hektar dan luas bangunan yang digunakan seluruhnya sebesar 8,765 meter persegi.

Koleksi Museum Dirgantara

koleksi Museum Dirgantara

Sebagai bagian dari Sejarah Museum Dirgantara di Yogyakarta, koleksi museum ini berjumlah 10 ribu buah berupa 36 pesawat terbang, 1000 foto, 28 macam diorama, lukisan, tanda – tanda kehormatan, pakaian dinas, dan perpustakaan yang menampung sejumlah koleksi buku. Koleksi pesawat tempur dan replikanya yang berada di museum ini kebanyakan berasal dari masa Perang Dunia II dan masa – masa perang kemerdekaan Indonesia, antara lain:

  • Pesawat Ki-43 yang dibuat oleh Jepang
  • Pesawat PBY-5A Catalina
  • Replika pesawat pertama yang diproduksi Indonesia, WEL-I-RI-X
  • Pesawat buatan Jepang yaitu A6M5 Zero Sen
  • Pesawat pembom jenis B-25 Mitchell, B-26 Invader, TU-16 Badger
  • Helikopter buatan Amerika Hillier 360
  • Pesawat P51 Mustang dari AS
  • Pesawat KY51 Cureng dari Jepang
  • Replika pesawat Glider Kampret yang dibuat Indonesia
  • Pesawat Lavochkin La-11, Mig-15, Mig -17 dan Mig 21 Rusia.
  • Rudal SA 75
  • Pesawat TS -8 Dies yang dibuat AS.

Baru – baru ini pada sejarah museum dirgantara di Yogyakarta mendapat tambahan koleksi berupa 9 buah prototipe bom yang dibuat oleh Dislitbang AU bekerjasama dengan PT. Pindad dan PT. Sari Bahari, yaitu bom latih dan bom tajam berdaya ledak tinggi yang bisa digunakan sebagai senjata pada pesawat Sukhoi Su-30, F 16, F5, Sky Hawk, Super Tucano dan lainnya. Ada pula koleksi berupa foto – foto pejuang TNI AU misalnya Agustinus Adisucipto, Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, Adi Sumarmo, Abdul Halim Perdanakusuma, dan lainnya yang merupakan pelopor pendirian TNI AU Indonesia.

  • Tata Ruang Museum Dirgantara

Gedung museum ini terbagi menjadi beberapa bagian ruangan yang mengakomodir pameran berbagai koleksi yang ada disini. Selain ruang utama yang berisi pajangan foto – foto para mantan petinggi AU, ada beberapa ruangan lain yaitu:

  • Ruang Kronologi I dan II

Di dalam ruangan ini pengunjung dapat melihat – lihat susunan diorama sejarah dan dokumen yang berasal dari masa – masa proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945. Sejarah keterlibatan TNI AU dalam usahanya membela Merah Putih sejak Agresi Militer Belanda II yang menyerang Lanud Adisucipto yang dulu masih bernama Maguwo. Dalam sebuah diorama diungkapkan bagaimana perjuangan para Pasukan Pertahanan Pangkalan Udara Maguwo, dan juga terdapat pesawat C-47 VTCLA yang dinaiki para perwira TNI AU yang fotonya ada di ruang utama dan jatuh karena ditembak Belanda sehingga para perwira tersebut gugur. Masih ada beberapa diorama lain seperti diorama ketika terjadinya penerbangan pertama pesawat merah putih, peristiwa 29 Juli 1947, peristiwa setelah terjadinya penerbangan pertama, diorama Trikora, dan mengenai SKSD Palapa.

  • Ruang ALUTSISTA

Di ruangan ini para pengunjung bisa melihat berbagai peralatan temput TNI AU yang digunakan ketika bertempur melawan para penjajah pada zaman dulu. Selain berbagai jenis pesawat yang telah disebutkan diatas, ada berbagai alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AU berupa rudal anti pesawat, senjata penangkis serangan udara (PSU) dan beberapa jenis senapan yang digunakan pasukan Indonesia untuk melawan Belanda. Ada beberapa pesawat yang dapat dinaiki oleh pengunjung secara statis.

Selain itu ada juga studio foto yang memungkinkan anak – anak berfoto ala pilot pesawat tempur dan tempat penjualan suvenir di museum dirgantara yang terletak di dekat pintu keluar museum. Toko ini menjual berbagai aksesoris kedirgantaraan Indonesia mulai dari topi yang bergambar pesawat tempur, kaus, emblem atau pin, miniatur pesawat tempur dan lain sebagainya. Beberapa koleksi pesawat juga ada dipajang di halaman museum, dan satu alutsista bekas buatan Uni Soviet di salah satu sudut museum berupa pesawat TU 16 yang dijuluki Badger oleh Amerika. Pesawat inilah yang turut berjasa memaksa Belanda angkat kaki dari Papua sehingga peristiwa Trikora bisa berakhir dan Papua kembali ke pangkuan RI.

Sejarah museum dirgantara di Yogyakarta tentunya membuat Anda penyuka sejarah akan tertarik pada berbagai koleksi yang ada disini. Harga tiket berkisar empat ribu rupiah per orang dan dibuka mulai pukul 08.00-15.00 setiap harinya. Lokasi museum ini tepatnya adalah bandar udara Adi Sucipto di Jalan Kolonel Sugiono, Kompleks Lapangan Udara Adi Sucipto, Wonocatur, DIY. Lokasinya berada di tengah perkotaan yang mudah dijangkau oleh kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Akses kendaraan umum berupa bus umum dan pengunjung bisa turun di SD Angkasa yang letaknya setelah Flyover Janti, lokasi museum sekitar 200 meter dari lokasi turun bus. Pengunjung juga dapat naik trans Jogja dan turun di shelter Janti yang terdekat.  Selain itu, ada juga sejarah museum batik yogyakartasejarah museum biologi, dan sejarah museum affandi di Yogya.Advertisement

http://sejarahlengkap.com/bangunan/sejarah-umum-museum-dirgantara-di-yogyakarta

BOROBUDUR

Sejarah

Dinasti Sailendra membangun peninggalan Budha terbesar di dunia antara 780-840 Masehi. Dinasti Sailendra merupakan dinasti yang berkuasa pada masa itu. Peninggalan ini dibangun sebagai tempat pemujaan Budha dan tempat ziarah. Tempat ini berisi petunjuk agar manusia menjauhkan diri dari nafsu dunia dan menuju pencerahan dan kebijaksanaan menurut Buddha. Peninggalan ini ditemukan oleh Pasukan Inggris pada tahun 1814 dibawah pimpinan Sir Thomas Stanford Raffles. Area candi berhasil dibersihkan seluruhnya pada tahun 1835.

Borobudur dibangun dengan gaya Mandala yang mencerminkan alam semesta dalam kepercayaan Buddha. Struktur bangunan ini berbentuk kotak dengan empat pintu masuk dan titik pusat berbentuk lingkaran. Jika dilihat dari luar hingga ke dalam terbagi menjadi dua bagian yaitu alam dunia yang terbagi menjadi tiga zona di bagian luar, dan alam Nirwana di bagian pusat.

Zona 1: Kamadhatu

alam dunia yang terlihat dan sedang dialami oleh manusia sekarang.

Kamadhatu terdiri dari 160 relief yang menjelaskan Karmawibhangga Sutra, yaitu hukum sebab akibat. Menggambarkan mengenai sifat dan nafsu manusia, seperti merampok, membunuh, memperkosa, penyiksaan, dan fitnah.

Tudung penutup pada bagian dasar telah dibuka secara permanen agar pengunjung dapat melihat relief yang tersembunyi di bagian bawah. Koleksi foto seluruh 160 foto relief dapat dilihat di Museum Candi Borobudur yang terdapat di Borobudur Archaeological Park.

Zona 2: Rupadhatu

alam peralihan, dimana manusia telah dibebaskan dari urusan dunia.

Rapadhatu terdiri dari galeri ukiran relief batu dan patung buddha. Secara keseluruhan ada 328 patung Buddha yang juga memiliki hiasan relief pada ukirannya.

Menurut manuskrip Sansekerta pada bagian ini terdiri dari 1300 relief yang berupa Gandhawyuha, Lalitawistara, Jataka dan Awadana. Seluruhnya membentang sejauh 2,5 km dengan 1212 panel.

Zona 3: Arupadhatu

alam tertinggi, rumah Tuhan.

Tiga serambi berbentuk lingkaran mengarah ke kubah di bagian pusat atau stupa yang menggambarkan kebangkitan dari dunia. Pada bagian ini tidak ada ornamen maupun hiasan, yang berarti menggambarkan kemurnian tertinggi.

Serambi pada bagian ini terdiri dari stupa berbentuk lingkaran yang berlubang, lonceng terbalik, berisi patung Buddha yang mengarah ke bagian luar candi. Terdapat 72 stupa secara keseluruhan. Stupa terbesar yang berada di tengah tidak setinggi versi aslinya yang memiliki tinggi 42m diatas tanah dengan diameter 9.9m. Berbeda dengan stupa yang mengelilinginya, stupa pusat kosong dan menimbulkan perdebatan bahwa sebenarnya terdapat isi namun juga ada yang berpendapat bahwa stupa tersebut memang kosong.

Relief

Secara kesulurhan terdapat 504 Buddha dengan sikap meditasi dan enam posisi tangan yang berbeda di sepanjang candi.

Koridor Candi

Selama restorasi pada awal abad ke 20, ditemukan dua candi yang lebih kecil di sekitar Borobudur, yaitu Candi Pawon dan Candi Mendut yang segaris dengan Candi Borobudur. Candi Pawon berada 1.15 km dari Borobudur, sementara Candi Mendut berada 3 km dari Candi Borobudur. Terdapat kepercayaan bahwa ada hubungan keagamaan antara ketiga candi tersebut namun masih belum diketahui secara pasti proses ritualnya.

Ketiga candi membentuk rute untuk Festival Hari Waisak yag digelar tiap tahun saat bulan purnama pada Bulan April atau Mei. Festival tersebut sebagai peringatan atas lahir dan meninggalnya, serta pencerahan yang diberikan oleh Buddha Gautama.

http://borobudurpark.com/temple/borobudur/

AKMIL

Hasil gambar untuk logo akmil

Penerimaan Calon Taruna Akmil TA 2019

HomePengumumanPersyaratanLokasiJadwalMateri SeleksiPanduan

Jadwal Seleksi

DAFT ONLINE : MULAI 1 JAN S.D. 14 APR 2019 

DAFT ULANG DAN VALIDASI : 15 S.D. 26 APR 2019

PENGECEKAN AWAL : 29 APR S.D. 9 MEI 2019

PARADE : 10 MEI 2019

RIK/UJI TK. PANDA : 24 JUNI S.D. 1 JULI 2019 (PENGUMUMAN 2 JULI 2019)

RIK/UJI TK. PUSAT : 14 S.D. 25 JULI 2019 (SIDANG PEMILIHAN 26 JULI 2019)

PEMBUKAAN PENDIDIKAN : 1 AGUSTUS 2019

©2019 HAK CIPTA TNI ANGKATAN DARAT

LOGIN PESERTAMasukDaftar/Registrasi
Lupa Password

http://ad.rekrutmen-tni.mil.id/berita/jadwal/taruna-akmil

History of AAL

Sejarah AAL

Pada tahun 1951, Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) membuka Institut Angkatan Laut (IAL) berdasarkan Surat Keputusan Mentri Pertahanan Nomor: D/MP/279/1951 tanggal 29 Juni 1951. Kemudian disusul dengan S.K. Nomor : D/MP/313/51 tanggal 28 Juli 1951 yang memuat program pendidikan ALRI yang dilaksanakan secara mandiri.

Pada Angkatan I, IAL membuka 3 jurusan atau korps yaitu korps Navigasi, korps Teknik Mesin, dan korps Administrasi. Lama pendidikan ditentukan tiga tahun yang terbagi atas dua tahun teori dan satu tahun praktek. Pada pelajaran teori, sebagian besar diberikan oleh anggota Misi Militer Belanda (MMB) dan banyak menggunakan bahasa Belanda. Sedangkan untuk penggemblengan watak dan fisik diberikan oleh pihak ALRI sendiri. Satu tahun kemudian yaitu pada penerimaan Angkatan II, ditambah dua korps yaitu korps Komando (KKO) dan korps Elektronika.

Pada tanggal 13 Desember 1956, IAL berubah menjadi Akademi Angkatan Laut (AAL) dengan sistem pendidikan tetap tiga tahun. Selanjutnya pada tahun 1961, karena sistem pendidikan tiga tahun dianggap terlalu singkat, maka diubah menjadi sistem pendidikan empat tahun. Prosentase pelajaran yang diberikan menjadi 73% pelajaran praktek/latihan serta teori kemiliteran/keangkatan lautan (profesi), dan 27% pengetahuan akademik (Iptek). Sedangkan sistem lima korps yang ada dilebur menjadi hanya tiga korps, yaitu korps Pelaut ( gabungan dari Pelaut, Teknik dan Elektro), Administrasi dan Komando/Marinir. Tiga korps ini disebut sebagai “sistem laut”.

Menjelang akhir dari periode ini sistem laut dengan tiga korps disempurnakan lagi menjadi sistem jurusan terbatas (Limited Line System) atau dinamakan “Sistem Cikar Kemudi”, yang hanya terdiri dari korps Pelaut dan Marinir. Sistem ini hanya menghasilkan sebagian angkatan ke XI, dan seluruh angkatan ke XII dan XIII. Pada angkatan XI V dan XV, kembali diubah menjadi empat korps (Pelaut, Teknik, Elektronika, dan Marinir).

Pada tanggal 16 Desember 1965, telah diputuskan oleh Presiden R.I selaku Panglima Tertinggi ABRI/Panglima Besar Komando Operasi Tertinggi, tentang peresmian berdirinya Lembaga Pendidikan AKADEMI BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA (AKABRI) berdasarkan Surat Keputusan No. 185/KOTI/1965. Dengan demikian, lembaga-lembaga pendidikan militer sebelumnya, AMN, AAL, AAU, dan AAK dihapuskan.

Pada tanggal 5 Oktober 1966, dibentuklah markas Komando AKABRI di Jakarta yang merupakan badan pelaksana pusat dalam Departemen HANKAM. Berdasarkan S.K. WAPERDAM BIDANG HANKAM No. KEP/E/61/66, diangkatlah Mayor Jenderal TNI achmad Tahir, Gubernur AMN di Magelang. sebagai Komandan Jenderal AKABRI yang pertama.

Pada tanggal 29 Januari 1967, diselenggarakan upacara pembukaan tahun akademi AKABRI Tingkat I atau AKABRI Bagian Umum yang bertempat di Magelang. Berada satu atap dengan AKABRI Bagian Darat (perubahan dari AMN sebelum integrasi). Selanjutnya, AAL menjelma menjadi AKABRI Bagian Laut, AAU menjelma menjadi AKABRI Bagian Udara, AAK menjelma menjadi AKABRI Kepolisian.

Dalam kaitannya dengan upaya integrasi, kegiatan-kegiatan pendidikan utama yang bersifat integrasi mendapatkan perhatian serius yang meliputi: Pendidikan Dasar Prajurit, Latihan Integrasi Kadet Weda, dan Kegiatan Pekan Olah Raga Bersama. Periode ini menghasilkan lulusan angkatan ke XVI s/d angkatan ke XXXI.

Berdasarkan Keputusan Pangab No. Kep/29/X/1984, tanggal 10 Nopember 1984, AKABRI Bagian Laut berubah menjadi Akademi TNI Angkatan Laut disingkat AAL.

Dalam perkembangan lebih lanjut, AAL menetapkan pola kurikulum 5 bulan + 3 tahun + 7 bulan. Beban studi dihitung dalam satuan kredit semester (SKS) yang dilaksanakan berdasarkan SKep. KASAL nomor: SKep/331/III/1999, tanggal 2 Maret 1999, tentang kurikulum pendidikan Mapwa TNI AL dan Dikpasis. Dan Sejak tahun 2003, Korps Administrasi diubah menjadi Korps Suplai. Mulai tahun 2008 AAL akan menyelenggarakan pendidikan dengan pola 1 tahun di Akmil dan 3 tahun di AAL.

http://aal.ac.id/sejarah-aal/

History of AAU

Pada tanggal 1 Agustus 1921 Pemerintah Hindia Belanda membuka sekolah penerbangan pertama di Indonesia yakni Sekolah Penerbangan Kalijati di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Pada 1939 Sekolah Penerbang digabung dengan Sekolah Pengintai di Lapangan Andir Bandung. Tanggal 1 Januari 1940, Sekolah Penerbang menjadi Penerbangan Militer (Militaire Luchvaart). Salah satu instruktur sekolah ini adalah Letnan R. Suryadi Suryadarma, penerbang lulusan Militaire Academy di Breda, Belanda (Belakangan, setelah kemerdekaan Indonesia, Suryadarma dinyatakan sebagai Bapak AURI dan sekaligus namanya diabadikan sebagai nama pangkalan udara Kalijati). Pada tahun 1950, Pangkalan Udara Andir membuka Sekolah Penerbang Lanjutan (SPL).

Sejarah Akademi Angkatan Udara dimulai sejak didirikannya Lembaga Pendidikan Perwira TNI AU di Maguwo, Yogyakarta, pada tahun kemerdekaan RI. Akhir Desember 1945, Komodor Udara Suryadi Suryadarma merencanakan pembentukan personel AU, yang kemudian diserahkan kepada Agustinus Adisutjipto. Inilah embrio Akademi Angkatan Udara (AAU). Sat itu masih menggunakan pesawat latih jenis cureng buatan 1933. Sejak 1966 nama AAU diubah menjadi AKABRI Udara, dengan masa pendidikan 4-5 tahun. Pada masa itu, sistem rekrutmen perwira militer sukarela melalui satu jalur komando, (Mako AKABRI), dipimpin oleh Danjen AKABRI. Belakangan, masa tempuh pendidikan di AKABRI dikembalikan ke 3 tahun dari sebelumnya 4 tahun. Namanya juga kembali ke Akademi Angkatan Udara (AAU). AAU merupakan lembaga/penyelenggara pendidikan militer sukarela setingkat akademi yang menghasilkan perwira-perwira karier TNI AU berpangkat Letnan Dua. Perwira lulusan AAU diproyeksikan mampu mengemban tugas sebagai Prajurit TNI AU dan terus mengembangkan kemampuannya sejalan dengan perkembangan teknologi.

Sekolah Penerbangan Kalijati

Pada tanggal 1 Agustus 1921 mulai dibuka sekolah penerbangan pertama di Indonesia yang bertempat di Kalijati Subang, Jawa Barat. Selanjutnya pada tanggal 1 Januari 1940 diubah namanya menjadi penerbangan militer (Militaire Luchvaart). Syarat untuk menjadi penerbang yaitu harus lulusan Militaire Academy Breda (Belanda), karena Letnan Suryadi Suryadarma adalah seorang lulusan akademi militer Breda, maka diterima menjadi penerbang pengintai dan setelah lulus ditugaskan menjadi instruktur di sekolah penerbang Kalijati. Dan akhirnya sekarang bapak R. Suryadi Suryadarma dinyatakan sebagai Bapak Auri dan namanya dijadikan sebagai nama pangkalan udara Kalijati pada tahun 2001.

Sekolah Penerbangan Andir

Pada tahun 1939 Sekolah Penerbang digabungkan dengan Sekolah Pengintai di Lapangan Andir Bandung. Dari sekolah penerbang tersebut direkruit sebanyak 10 orang siswa, di mana 5 orang berhasil mencapai taraf KMB (Kleine Militaire Brevet) yaitu antara lain Husein Sastranegara, Sulistio dan H. Sujono, 2 orang mencapai GMB (Groote Militaire Brevet) yaitu Adisutjipto dan Sambudjo Hurip dan 3 orang lagi grounded. Selanjutnya setelah penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Pemerintah RI, maka PAU Andir membuka sekolah penerbang lanjutan (SPL) pada tahun 1950 dan hanya menghasilkan 3 angkatan, untuk angkatan pertama tahun 1950 sejumlah 10 penerbang militer dan 11 penerbang sipil, di antara penerbang militer tersebut Bapak Rusmin Nurjadin, angkatan kedua lulus tahun 1952 sejumlah 16 penerbang antara lain Bapak Ashadi Tjahjadi, Sompil Basuki, dan Suwoto Sukendar. Sedangkan angkatan ketiga sebanyak 8 orang antara lain Nurtanio dan Supadio.

Sekolah Penerbangan Maguwo

Sejarah Akademi Angkatan Udara dimulai sejak didirikannya Lembaga Pendidikan Pertama Perwira TNI AU di Maguwo, Yogyakarta pada zaman perang kemerdekaan RI pada Tahun 1945. Akhir bulan Desember 1945, Komodor Udara Suryadi Suryadarma merencanakan tugas pembentukkan personel Angkatan Udara. Tugas ini kemudian diserahkan kepada Agustinus Adisutjipto. Inilah lembaga pendidikan Angkatan Udara pertama yang merupakan embrio Akademi Angkatan Udara dengan menggunakan pesawat latih jenis cureng buatan tahun 1933.

http://aau.ac.id/sejarah/

Program Studi STTKD

S1 TEKNIK DIRGANTARA

Program Studi S1 Teknik Dirgantara STTKD Yogyakarta bergerak sejalan dengan kegiatan pembangunan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai salah satu fasilitator dalam mengemban tugas mendidik sumber daya manusia yang lebih baik dan berkualitas. Khususnya dalam menghadapi era modern yang membutuhkan penyediaan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas. Diantaranya adalah tenaga-tenaga profesional dan berkemampuan tinggi yang dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, mempunyai daya saing tinggi di pasar global serta memiliki ciri-ciri Taqwa, Teknokrat, Tanggap, Tanggon dan Trengginas.
Program Studi S1 Teknik Dirgantara STTKD Yogyakarta, menyelenggarakan pendidikan dengan konsentrasi keilmuan Aircraft Maintenace dan Desain Pesawat Tanpa Awak-Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Sarana praktikum yang dimiliki cukup memadai diantaranya Bengkel Produksi, Laboratorium Gambar Teknik, Laboratorium CAD, Laboratorium Piston dan Jet Engine, Laboratorium Elektronika, Simulator, Pesawat Boeing 737-200, Pesawat Cessna 150.

Visi & Misi

Visi : Pusat Keunggulan di Bidang Aeronautika.
Misi : Menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang Teknik Dirgantara yang unggul dan bermutu dalam rangka membentuk kualitas tenaga-tenaga praktisi yang profesional dalam dunia airliner, Meningkatkan kualitas penelitian, publikasi dan aplikasinya di bidang Teknik Dirgantara yang dapat mendukung pendidikan, dan pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Meningkatkan pengabdian kepada masyarakat di bidang Teknik Dirgantara untuk pengembangan industri jasa penerbangan di Indonesia.

Tentang Prodi Teknik Dirgantara

Lulusan program studi S1 Teknik Dirgantara dipersiapkan menjadi konseptor dan pembuat sistem dalam bidang rangka pesawat terbang dan memiliki kualifikasi kemampuan dan pengetahuan tentang perangkat keras pesawat terbang yang berhubungan dengan perkembangan teknologi kedirgantaraan dalam dunia penerbangan lebih khusus lagi diarahkan untuk mengembangkan teknologi UAV, berkemampuan melakukan analisis perawatan pesawat terbang, menerapkan dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, bekerjasama secara efektif untuk meningkatkan produktivitas, bersikap profesional, beretika dan bertanggung jawab sosial serta berwawasan luas dalam menyikapi perkembangan teknologi, berkomitmen terhadap peningkatan kualitas suatu proses perkembangan teknologi.

Secara umum, terdapat dua sektor peluang lapangan kerja bagi lulusan Program Studi S1 Teknik Dirgantara, yaitu sektor Industri Kedirgantaraan dan sektor Lembaga Penerbangan. Sektor Industri Kedirgantaraan meliputi industri manufaktur (PT. Dirgantara Indonesia) industri komponen kedirgantaraan, baik komponen-komponen avionika/optronika (LEN, PT. INTI), hidrolika/landing-gear, maupun komponen standar. Industri jasa, yang meliputi jasa perawatan (ACS-PT.DI, GMF-AeroAsia, INDO-PELITA, MMF, Koharmat-AU), jasa angkutan udara (airlines, air charter, seperti PT. GIA, PT. MNA, dll.), maupun jasa telekomunikasi satelit (Satelindo, PSN, Telkom, Kohanudnas). Sektor lembaga penerbangan yang juga membutuhkan sarjana Aeronotika dan Astronotika, meliputi lembaga penelitian (Puspiptek/BPPT, Dislitbang AU, LAPAN), lembaga pendidikan (STTKD, AAU, Sekbang-AU, dll.) dan lembaga pemerintahan (Departemen Perhubungan). Mengingat industri kedirgantaraan merupakan industri global, kesempatan juga terbuka untuk memasuki pasar tenaga kerja internasional.

D4 MANAJEMEN TRANSPORTASI UDARA

Menghasilkan Sarjana Terapan bidang Manajemen Transportasi Udara yang memiliki integritas kepribadian, berjiwa pemimpin, dan beretika profesional, mampu bersaing di dunia kerja di masa kini dan mendatang.

Visi & Misi

Visi : Menjadi pusat keunggulan dibidang manajemen dan riset kedirgantaraan berorientasi teknologi penerbangan mutakhir dunia di tahun 2025

Misi : Menjadi penyedia jasa pendidikan yang mencetak cendekia di bidang manajemen dan riset transportasi udara terkini sebagai sumber daya manusia berkarakter 5T (Taqwa, Teknokrat, Tanggap, Tanggon, dan Trengginas) bagi industri penerbangan secara khusus dan masyarakat secara umum demi meningkatkan kesejahteraan bangsa. Perwujudan cita-cita ini dilaksanakan melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai berikut:

Mengadakan pendidikan tinggi di bidang Manajemen Transportasi Udara untuk menciptakan tenaga profesional berpotensi mendunia yang berpikiran kritis dan sensitif dengan kebutuhan dunia penerbangan tanah air dan intenasional.

Menciptakan secara berkelanjutan terobosan-terobosan baru dalam riset, publikasi cetak maupun elektronik dan aplikasi lainya dalam mendukung pendidikan, teknologi dan pemberdayaan dunia kerja industri jasa transportasi udara tanah air dan internasional.
Mendorong dan meningkatkan pengabdian kepada masyarakat dalam pengembangan industri jasa transportasi udara berikut seluruh aspek pendukungnya di tanah air dan internasional guna meningkatkan kesejahteraan khalayak umum.

Konsentrasi Manajemen Perusahaan Penerbangan

Manajemen Perusahaan penerbangan mempunyai tugas untuk mengatur dan membuat rencana perusahaan penerbangan, mengatur Sistem Transportasi Udara sesuai dengan perkembangan teknologi penerbangan. Program Studi MTU STTKD bertujuan untuk membentuk tenaga-tenaga terampil tingkat menengah yang akan bekerja di perusahaan-perusahaan industri jasa penerbangan antara lain Perusahaan Pengelola Bandar Udara, Perusahaan Penerbangan, Perusahaan Jasa Ground Handling, Biro Jasa Perjalanan, Perusahaan Jasa Cargo Udara dan tidak menutup kemungkinan bekerja di pemerintahan.

Kurikulum yang disusun berdasarkan tugas-tugas di unit-unit Perusahaan Penerbangan dan Pengelolaan Bandar Udara dengan standar Nasional maupun Internasional. Dalam Program Studi MTU para Taruna dibekali iImu-ilmu Pengetahuan tentang Perusahaan Penerbangan, Perusahaan Pengelola Bandar Udara, Penanganan Ground Handling baik di Pasasi maupun di Ramp Area dan Penanganan Pesawat Udara, caracara Penanganan Penumpang dan Barang yang diangkut melalui Pesawat Udara, Perencanaan dan Pemasaran Produk Perusahaan Penerbangan, Penanganan Cargo Udara. Keamanan dan Keselamatan di Bandar Udara, Keimigrasian, Kepabeanan, Karantina, dan ditambah Ilmu Dasar yang mendukung pekerjaan misalnya Bahasa Inggris, Komputer Akutansi, Statistik, dan Ekonomi.

Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dalam akhir masa studi STTKD bekerja sama dengan Pengelola

Bandar Udara. Perusahaan Penerbangan, Perusahaan Jasa Ground Handling dimana para Taruna/i dapat mempraktekkan secara nyata apa-apa yang telah diberikan di Kampus ke tempat praktek dan nantinya dapat dipertanggungjawabkan dengan membuat laporan serta dapat juga dijadikan bahan untuk Tugas Akhir pada masa akhir studi di STTKD.

Konsentrasi Pramugari

Lulusan dari program studi ini siap mengisi pramugara/I di perusahaan penerbangan dalam dan luar negeri dengan keunggulan:

  • Kedewasaan akan lebih menonjol baik berpikir, bertindak dan berperilaku
  • Penguasaan minimal 3 bahasa asing akan lebih baik
  • Penguasaan pengetahuan penerbangan akan lebih luas dan mendalam
  • Wawasan dan daya pikir akan lebih baik
  • Ketrampilan dan profesionalisme di bidang kepramugarian akan lebih menonjol
  • Disamping keahlian dalam bidang kepramugarian mereka dibekali keahlian dalam bidang lain speperti kesekretarisan, komunikasi, kearsipan dan manajemen.

D3 MANAJEMEN TRANSPORTASI

Tujuan dari program studi diploma 3 manajemen transportasi adalah untuk membentuk tenaga terampil tingkat menengah yang akan bekerja di perusahaan industri jasa penerbangan antara lain perusahaan pengelola bandara, perusahaan penerbangan, perusahaan jasa ground handling, biro jasa perjalanan, perusahaan jasa kargo udara dan bekerja di pemerintahan Indonesia

Visi & Misi

Visi : Pusat keunggulan di bidang manajemen kedirgantaraan di tahun 2025

Misi : Menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang Manajemen Transportasi Udara yang unggul dan bermutu dalam rangka membentuk kualitas tenaga-tenaga praktisi yang professional dalam dunia airliner, Meningkatkan kualitas penelitian, publikasi dan aplikasinya di Bidang Manajemen Transportasi Udara yang dapat mendukung pendidikan, dan pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Meningkatkan pengabdian kepada masyarakat di Bidang Manajemen Transportasi Udara untuk pengembangan industri jasa penerbangan di Indonesia.

Konsentrasi Manajemen Perusahaan Penerbangan

Manajemen Perusahaan penerbangan mempunyai tugas untuk mengatur dan membuat rencana perusahaan penerbangan, mengatur Sistem Transportasi Udara sesuai dengan perkembangan teknologi penerbangan. Program Studi MT STTKD bertujuan untuk membentuk tenaga-tenaga terampil tingkat menengah yang akan bekerja di perusahaan-perusahaan industri jasa penerbangan antara lain Perusahaan Pengelola Bandar Udara, Perusahaan Penerbangan, Perusahaan Jasa Ground Handling, Biro Jasa Perjalanan, Perusahaan Jasa Cargo Udara dan tidak menutup kemungkinan bekerja di pemerintahan.

Kurikulum yang disusun berdasarkan tugas-tugas di unit-unit Perusahaan Penerbangan dan Pengelolaan Bandar Udara dengan standar Nasional maupun Internasional. Dalam Program Studi MT para Taruna dibekali iImu-ilmu Pengetahuan tentang Perusahaan Penerbangan, Perusahaan Pengelola Bandar Udara, Penanganan Ground Handling baik di Pasasi maupun di Ramp Area dan Penanganan Pesawat Udara, caracara Penanganan Penumpang dan Barang yang diangkut melalui Pesawat Udara, Perencanaan dan Pemasaran Produk Perusahaan Penerbangan, Penanganan Cargo Udara. Keamanan dan Keselamatan di Bandar Udara, Keimigrasian, Kepabeanan, Karantina, dan ditambah Ilmu Dasar yang mendukung pekerjaan misalnya Bahasa Inggris, Komputer Akutansi, Statistik, dan Ekonomi.

Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dalam akhir masa studi STTKD bekerja sama dengan Pengelola

Bandar Udara. Perusahaan Penerbangan, Perusahaan Jasa Ground Handling dimana para Taruna/i dapat mempraktekkan secara nyata apa-apa yang telah diberikan di Kampus ke tempat praktek dan nantinya dapat dipertanggungjawabkan dengan membuat laporan serta dapat juga dijadikan bahan untuk Tugas Akhir pada masa akhir studi di STTKD.

Konsentrasi Pramugari

Lulusan dari program studi ini siap mengisi pramugara/I di perusahaan penerbangan dalam dan luar negeri dengan keunggulan:

  • Kedewasaan akan lebih menonjol baik berpikir, bertindak dan berperilaku
  • Penguasaan minimal 3 bahasa asing akan lebih baik
  • Penguasaan pengetahuan penerbangan akan lebih luas dan mendalam
  • Wawasan dan daya pikir akan lebih baik
  • Ketrampilan dan profesionalisme di bidang kepramugarian akan lebih menonjol
  • Disamping keahlian dalam bidang kepramugarian mereka dibekali keahlian dalam bidang lain speperti kesekretarisan, komunikasi, kearsipan dan manajemen.

D3 AERONAUTIKA

Program studi D3 Aeronautika (AE) merupakan salah satu program studi yang dimiliki oleh Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan. Program studi ini bertujuan untuk menyiapkan dan menghasilkan sumber daya manusia yang terampil dan siap bekerja sebagai seorang ahli perawatan pesawat udara (Aircraft Maintenance Engineer). Selain itu, juga dapat memenuhi kualifikasi untuk bekerja di perusahaan penerbangan sipil nasional maupun internasional. Untuk memenuhi kualifikasi sesuai tuntutan sebagai Aircraft Maintenance Engineer, kurikulum yang diselenggarakan oleh Program Studi D3 Aeronautika mengacu kepada kebutuhan pasar (di perusahaan penerbangan sipil), sesuai dengan Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (Civil Aviation Safety Regulation/CASR), dan standar internasional di bidang perawatan pesawat terbang (EASA). Program studi D3 Aeronautika ini memilki 3 (tiga) konsentrasi, yakni Airframe, PowerPlant, dan Avionic System.

Visi & Misi

Visi : Pusat Keunggulan di Bidang Aeronautika.

Misi : Menyediakan jasa pendidikan tinggi bidang Aeronautika terutama transportasi udara dengan dengan mendidik tenaga professional yang memiliki ciri-ciri 5T (Taqwa, Teknokrat, Tanggap, Tanggon, Trengginas) bagi seluruh lapisan masyarakat untuk membantu mewujudkan cita-cita kesejahteraan bangsa melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sebagai berikut :
Meningkatkan kualitas penelitian, publikasi, dan aplikasinya di bidang Aeronautika yang dapat mendukung pendidikan dan pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Meningkatkan kualitas penelitian, publikasi, dan aplikasinya di Bidang Aeronautika yang dapat mendukung pendidikan, dan pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Meningkatkan pengabdian kepada masyarakat di bidang Aeronautika untuk pengembangan industri jasa penerbangan di Indonesia.

Tentang Program Studi Aeronautika

Sarana praktikum yang dimiliki oleh Program Studi D3 Aeronautika cukup memadai untuk melaksanakan praktikum. Sarana praktikum yang dimiliki diantaranya : Bengkel Produksi, Laboratorium Gambar Teknik, Engine Shop, Piston Engine dan Jet Engine, dan laboratorium komputer.

Program studi D3 Aeronautika ini memiliki tujuan dapat menghasilkan serta menciptakan lulusan ahli madya bidang Teknik Penerbangan terutama teknisi dan teknik perawatan pesawat terbang. Selain itu, lulusan dari program studi ini juga dapat memiliki integritas kepribadian, berjiwa pemimpin, dan beretika professional serta mampu bersaing di dunia kerja, baik pada masa kini ataupun pada masa yang akan datang.

Lulusan program studi D3 Aeronautika STTKD Yogyakarta telah tersebar dan bekerja di beberapa perusahaan penerbangan komersial, seperti Garuda Maintenance Facility (GMF), Sriwijaya Air, Air Asia, dan beberapa perusahaan penerbangan yang melayani carter, seperti white sky.

D1 PRAMUGARI

Berkembangnya perusahaan penerbangan memberikan peluang bagi mahasiswi maupun alumni Program Studi Pramugari STTKD untuk berkompetensi menempati posisi seperti Pramugari Udara dan staff bandar udara seperti Ticketing and Reservation, Greeting Service dan Schedulling.

Visi & Misi

Visi : Pusat keunggulan di bidang kepramugarian/kepramugaraan di tahun 2025

Misi : Menyediakan jasa pedidikan tinggi bidang kepramugaraan dengan mendidik Tenaga profesional yang memiliki ciri-ciri 5T (Takwa, Teknokrat, Tanggap, Tanggon, dan Trengginas) bagi seluruh lapisan masyarakat untuk membantu mewujudkan cita-cita kesejahteraan bangsa melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sebagai berikut.
Menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang kepramugaraan yang unggul dan bermutu dalam rangka membentuk kualitas tenaga-tenaga praktisi yang professional dalam dunia Airlines, Meningkatkan kualitas penelitian, publikasi dan aplikasinya di bidang kepramugaraan yang dapat mendukung pendidikan dan pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Meningkatkan pengabdian kepada masyarakat di bidang kepramugaraan untuk pengembangan industri jasa transportasi udara di Indonesia

Persyaratan

  • Foto 3×4 Hitam Putih 2 Lembar
  • Foto close up seluruh badan, pose dan pakaian bebas
  • Surat keterangan sehat dan tidak buta warna dari Rumah Sakit
  • Foto copy Ijazah, UAN, Raport kelas XII Semester 1 dan Akta Kelahiran
  • Tinggi minimal 158 cm berat badan proporsional dengan tinggi badan
  • Tidak menggunakan alat bantu penglihatan seperti kaca mata atau lensa kontak karena plus atau silinder. Toleransi mata minus hingga -1 dioptri
  • Tidak ada luka permanen pada kulit yang terlihat (pada bagian yang tertutup seperti perut tidak masalah)

Fasilitas

  • Baju Seragam 2 Stel
  • Baju Training
  • Sepatu, Tas Kuliah
  • Name Plate, Wing, dan atribut lainnya
  • Instruktur / Praktisi Profesional
  • Sertifikat Wet Drill
  • Sertifikat Escape Equipment
  • Sertifikat Table Manner
  • Sertifikat Junggle & Sea Survival
  • Sertifikat Avsec DG
  • Sertifikat Flight Safety
  • Sertifikat PDK

D1 GROUND HANDLING

Ground Handling (GH) atau Pramugari/ra darat adalah suatu pekerjaan dalam rangka mempersiapkan keberangkatan dan kedatangan pesawat terbang di bandar udara. Tujuan pelayanan Ground Handling agar keberangkatan dan kedatangan penumpang, bagasi, cargo dan surat pos (mail) dengan menggunakan pesawat terbang berjalan aman, lancar dan nyaman. Sedangkan mata kuliah Ground handling terdiri dari Teori, Praktek dan PKL. Teori dilaksanakan di dalam kelas. Praktek dilaksanakan di dalam kelas dan sebagian di perusahaan penerbangan atau perusahaan Ground Handling. PKL (Praktek Kerja Lapangan) sepenuhnya dilaksanakan di perusahaan penerbangan atau Ground Handling, yang biasanya lokasinya di bandar udara.

Visi & Misi

Visi : Pusat Keunggulan di Bidang Pramugrari/ra Daratkepramugarian/kepramugaraan di tahun 2025

Misi : Menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang Manajemen Transportasi Udara yang unggul dan bermutu dalam rangka membentuk kualitas tenaga-tenaga praktisi yang professional dalam dunia airliner, Meningkatkan kualitas penelitian, publikasi dan aplikasinya di Bidang Manajemen Transportasi Udara yang dapat mendukung pendidikan, dan pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Meningkatkan pengabdian kepada masyarakat di Bidang Manajemen Transportasi Udara untuk pengembangan industri jasa penerbangan di Indonesia.

Cakupan Pekerjaan

  • Prosedur keberangkatan dan kedatangan penumpang dan bagasi
  • prosedur keberangkatan dan kedatangan cargo dan mail
  • prosedur keberangkatan dan kedatangan pesawat tebang.

Kemampuan Lulusan

  • Pelayanan GSE (Ground Support Equipment) Pelayanan Cargo
  • Pelayanan Ticketing and Reservation
  • Pelayanan keberangkatan / kedatangan penumpang dan bagasi

Peluang Lulusan

  • Perusahaan Penerbangan (Airlines)
  • Perusahaan Charter Pesawat Terbang
  • Perusahaan Ground Handling Service
  • Perusahaan Tour & Travel
  • Perusahaan Cargo, dll.

Fasilitas

  • Baju Seragam 2 Stel
  • Baju Training
  • Sepatu, Tas Kuliah
  • Name Plate, Wing, dan atribut lainnya
  • Instruktur / Praktisi Profesional
  • Sertifikat Avsec DG
  • Sertifikat Table Manner
  • Sertifikat PDK

http://sttkd.ac.id/program-studi/

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI KEDIRGANTARAAN

Marsda TNI (Purn) H. Udin Kurniadi, S.E., M.M.

Pendiri dan Ketua STTKD

Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan atau yang dikenal dengan sebutan STTKD di dirikan pada tanggal 1 Oktober 1994. Berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam sejarah pendiriannya, STTKD tidak terlepas dari peran seorang mantan tokoh Gubernur Akademi Angkatan Udara Republik Indonesia Marsda TNI (Purn) Udin Kurniadi, S.E., M.M.

STTKD yang bernaung dibawah Yayasan Citra Dirgantara ini berawal atas inspirasi dari Koordinator Kopertis Wilayah V Yogyakarta Ir. Sutojo Tjokrodihardjo, M.Sc selaku tamu undangan, saat menghadiri undangan pelantikan Gubernur AAU Marsda TNI Udin Kurniadi, S.E., M.M. pada tanggal 23 April 1994. Pada pertemuan itu, Ir. Sutojo Tjokrodihardjo, M.Sc menegaskan bahwa di Yogyakarta belum ada perguruan tinggi swasta yang bergerak di bidang penerbangan, sehingga sangat pas kalau AAU berkenan mendirikannya.

Tanpa pikir panjang Marsda TNI Udin Kurniadi, S.E., M.M bergegas melakukan kajian lebih mendalam. Beliau berkeinginan mendirikan sebuah perguruan tinggi sebagai persembahan untuk Angkatan Udara karena pada saat itu diprediksikan adanya kekurangan perwira di tubuh TNI AU. Sebagai hasil pemikiran disimpulkan bahwa potensi untuk mendapatkan dosen-dosen professional cukup baik karena adanya AAU, Lanud, UGM dan PTS besar lainnya.

Pada tanggal 29 April 1995 turunlah Surat Rekomendasi dari Kopertis tentang pendirian STTKD. Lima bulan setelah Rekomendasi Kopertis turun, keluar ijin penyelenggaraan untuk STTKD dengan No : 089/D/O/1995 Tanggal 27 Nopember 1995 dan berstatus terdaftar. Dengan demikian maka dimulailah proses perkuliahan STTKD.

VISI :

Menjadikan STTKD Sebagai Pusat Keunggulan / Center of Excellence di Bidang Kedirgantaraan di Tahun 2025.

MISI :

Menyediakan jasa pendidikan tinggi bidang kedirgantaraan dengan mendidik tenaga profesional yang memiliki ciri-ciri 5T (Taqwa, Teknokrat, Tanggap, Tanggon, dan Trengginas) bagi seluruh lapisan masyarakat untuk membantu mewujudkan cita-cita kesejahteraan bangsa melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sebagai berikut:

  1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang Kedirgantaraan yang unggul dan bermutu dalam rangka membentuk kualitas tenaga-tenaga praktisi yang profesional dalam dunia airliner.
  2. Meningkatkan kualitas penelitian, publikasi dan aplikasinya di Bidang Kedirgantaraan yang dapat mendukung pendidikan, dan pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  3. Meningkatkan pengabdian kepada masyarakat di Bidang Kedirgantaraan untuk pengembangan industri jasa transportasi udara di Indonesia.

http://sttkd.ac.id/profil/